Sunday, March 1, 2009

BERKOMPETENSI YANG SEHAT

BERKOMPETENSI YANG SEHAT
Dalam hidup ini, terkadang kita harus bersikap kompetensi. Ini benar-benar sangat diperlukan dalam mempertahankan kehidupan. Salah satu usaha saya, pernah bertetangga dengan satu usaha seorang pebisnis yang sangat kondang. Dia seorang alumni sekolah di bidang religius dan belakangan ini terjun di dunia bisnis. Kebetulan usaha saya bersebelahan dengannya. Dengan berdekatan dengan pebisnis besar ini, saya benar-benar telah menimba banyak pengalaman dan banyak pengetahuan, meski itu saya peroleh dengan niatnya yang sangat-sangat tidak bersahabat darinya. Saya tahu bila dalam persaingan, kita mesti dapat mencari dimana titik kemenangan kita, mencari dimana titik kelemahan lawan tanding, tapi jangan sempat saling menghina, jangan sempat saling membenci, jangan sempat saling memusuhi dan apapun yang berujung pada masalah yang negataive, kita mesti usahakan jangan sempat itu terjadi. Tapi ketika bertetangga dengan pebisnis yang satu ini, saya benar-benar menilai sikapnya amat tidak terpuji. Saya juga sudah sering mengalami persaingan, tapi setahu saya, pertandingan yang sportif adalah dengan tidak saling mengganggu, tapi usahawan yang satu ini benar-benar aneh. Saya katakan demikian, bukan karena saya merasa kalah, bukan juga karena saya merasa menang, tapi saya tahu apa arti sebuah pertandigan.Saya merasa bila saya merasa sedikit menang saja di bidang penjualan ataupun di bidang pemajangan barang, dia selalu cari cara yang tidak sportif. Pernah dulu dia mencoba untuk menutupi usaha saya agar tidak jelas lagi dipandang orang yang lalu-lalang melintas di jalan raya. Kebetulan jalan raya di depan usaha saya ini adalah jalan raya dua arah yang dibatasi trotoar yang ditumbuhi tanam-tanaman indah. Dan kebetulan bagi pengguna jalan raya yang melintas di jalan di depan usaha saya ini selalu harus melintasi usahanya dulu baru melintas di depan saya. Jadi ini menjadi satu yang kira-kira bisa ia manfaatkan untuk meraih kemenangan dalam kompetensi kami. Kebetulan dia punya mobil truck Fuso yang amat besar. Usahanya yang kebetulan ada di samping usaha saya sangat lebar. Bahkan terdiri dari beberapa ruko. Di sini, dia nampaknya seperti menyengaja untuk memarkirkan trucknya yang amat besar di ujung gugusan rukonya sehingga posisinya sangat dekat sekali ke perbatasan usaha kami. Memang lokasi parker trucknya tidak melewati batas yang ada, tapi pandangan orang yang melintas di jalan raya akan sangat mengurangi pengenalan orang ke usaha saya. Bila saya pikir-pikir tentang masalah ini, terkadang saya bertanya dalam hati apakah ia tahu itu tidak akan mengganggu pada saya? Apakah ia memang menyengaja memarkirkan trucknya yang besar itu agar toko saya tidak kelihatan? Agar hanya tokonya saja yang kelihatan? Apakah hanya dengan cara begini ia bisa memajukan usahanya??Padahal seperti saya ceritakan tadi, usahanya sangat banyak. Di samping usaha saya saja ada banyak gugusan ruko miliknya. Saya hanya punya tak lebih dari sepersepuluh ukuran tanahnya, tapi entahlah ia tidak tahu bahwa perbuatannya itu tidak akan mengganggu pada usaha saya. Lagi pula saya pikir, dia memarkirkan trucknya di tanahnya sendiri. Akhirnya saya diam tanpa menegur dan mengatakan kesalahan yang telah diperbuatnya. Bagaimana saya bisa menghalanginya? Lalu keesokan harinya, saya memang mesti memikirkan bagaimana caranya agar toko saya tetap nampak jelas di depan orang yang melintas di jalan raya. Saya mencoba memajangkan spanduk yang agak panjang di depan toko saya. Kuikat ujungnya tepat di sudut depan toko saya, dan ujung yang satunya saya tarik memanjang ke arah jalan raya. Sehingga layar memanjang itu akhirya mebuat karyawan di toko saya tidak lagi bisa saling memandang satu sama lain. Layar yang saya pajang ini kebetulan bermerk dagang sesuai dengan usaha saya. Jadi meski layar sudah nampak seperti dinding, namun agaknya menguntungkan juga pada usaha saya. Toko saya ini menjadi terhiasi dengan layar besar yang sesuai, sehingga walau truck besarnya telah menghalangi pandangan orang lain, tapi dari seberang jalan malah lebih jelas. Layar saya ini kebetulan pula menutup pandangan orang yang berlewatan dari seberang jalan raya ke arah tokonya yang paling dekat ke toko saya. Kemudian dengan cara yang saya buat ini rupanya ia mengerti, rupanya ia menyadari bahwa layar yang saya pajang itu sangat mengganggunya, tapi apakah ia tak tahu bahwa trucknya yang besar itu tidak mengganggu pada orang lain? Begitulah terus-terusan yang ia perbuat pada saya. Kapan saja ia memarkir trucknya yang kadang sengaja diganti-gantinya, disitu pula saya memajang layar lebar sehingga usaha saya nampak sedikit makin jelas dan usahanya yang berbatas dengan saya menjadi sedikit kurang bisa dilihat orang yang lewat di seberang jalan. Bila dia tak memarkir trucknya di tempat itu sayapun tidak memasang layar lebar, sebab saya tahu itu hanya akan mengganggu usahanya, tapi kalau ia menutup usaha saya, tentu saya mesti berbuat apapun selagi tidak melanggar hukum agar usaha saya bisa dilihat orang yang lalu lalang di jalan raya, sebab orang yang melintas di jalan raya sangat diharapkan untuk menjadi pembeli barang dagangan saya. Kejadian ini berulang-ulang bebarapa hari hingga akhirnya dia tersadar walau kami tak pernah bicara tentang hal tersebut. Inilah yang sering diperbuatnya pada saya. Tapi saya tahu Tuhan juga memberi saya cara berfikir pada saya bagaimana untuk bersaing yang sehat. Saya berfikir terus-terusan agar bisa bertahan hidup di samping seorang usahawan yang serakah dan tak mengindahkan kepentingan orang lain itu. Memang begitulah orang yang sama sekali tidak memikirkan orag lain, selesai dari masalah yang satu, dia malah mencoba lagi dengan cara yang lain. Belakangan ini ia sudah membangun pula sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, yang sengaja ia sewakan untuk orang lain, tapi saya yakin ia membuatnya agar usaha saya jangan bisa dilihat orang yang lewat dengan maksud usahanya agar lebih bagus dan lancar. Kukatakan begitu sebab ia memang menempatkan bagunan itu tepat tempat parkir mobilnya yang selama ini selalu ia buat sebagai dinding untuk menutup usaha saya. Bagi saya tidak ada alasan lain baginya kecuali bukan dugaan saya yang tadilah yang tepat. Dia pasti tahu perbuatannya akan merugikan orang lain, dan ia melakukannya memang dengan maksud agar usahanya lebih laris dan lancar, tanpa harus memikirkan kepentingan orang lain.
Dari sudut ilmu ekonomi dia pasti tahu bahwa itu mengganggu bagi saya, dari sudut tata kota dia benar-benar telah melanggar aturan bangunan yang ada, dari sudut ajaran yang diturunkanTuhan, juga pasti
telah terlanggar. Tuhan tidak pernah menginginkan permusuhan terjadi bagi makhluk ciptaannya. Tidak ada alasan lain kecuali dia telah menggambarkan keburukan hatinya, dan meggambarkan keserakahannya. Kubilang serakah, karena saya hanya punya satu ruko di sampingnya, sementara dia punya banyak ruko di samping usaha saya, tapi dia malah mampu bersaing secara tidak sehat.
Saya tahu bahwa dia seorang tamatan sekolah religius, saya terkadanag heran kenapa begitu corak seorang tamatan agama, tapi saya selalu tersadar, agama tidak pernah salah. Tuhan tidak pernah salah, hanya laki-laki itu sajalah yang telah berbuat kotor dan tak memikirkan kerugian orang lain. Saya tidak menyalahkan agama dan Tuhan. Sekali lagi saya tidak menyalahkan agama. Tuhan telah
memberi pikiran bagi saya agar saya bisa mengatasi masalah ini. Dulu saya mengatasinya dengan memajang layar memanjang, tapi malam ini tuhan menggerakkan hati saya untuk membuat batas dengan kayu, bukan lagi layar seperti dulu. Bahkan saya menambahnya dengan merk yang di dalamnya ada lampu dengan maksud agar pembeli bisa dengan mudah mengenal toko saya. Tuhan telah memberi jalan bagi saya untuk bisa berkompetensi secara sehat tanpa harus mengganggu orang lain. Semoga orang yang membaca halaman saya ini akan berbuat yang benar dalam hidupnya. Jagan pernah meniru tabiat yang saya ceritakan di atas. Saya tidak mengatakan nama seorang jiran saya yang berbuat demikain pada saya sebab saya hanya ingin memberi contoh seorang yang serakah agar pembaca bisa membedakan sampai sekecil-kecil kesalahan. Agar pembaca bisa mengatasi masalah tanpa harus bermusuhan dan berkelahi. Semoga kita selalu dalam kebenaran. Pernah memang seorang China bertanya pada saya, kenapa saya membuat usaha seperti itu di dekat usahanya. Mungkin itu yang membuatnya benci dan mencoba untuk menyaingi saya dengan cara seperti itu. Lalu saya jawab, seperti yang saya ceritakan tadi. Dia punya gugusan ruko yang banyak di samping ruko saya yang hanya sebuah. Sudah barang tentu barang dagangnya terdiri dari banyak ragam sehingga tak ada lagi barang yang tak berbeda dengannya. Lalu barang dagangan apa lagi yang akan saya jual. Saya hanya menjual satu jenis dagangan saja, itupun sudah saya beri tahu padanya sebelumnya. sementara dia terdiri dari berbagai macam barang. Saya punya hak untuk hidup.Saya punya hak untuk berusaha. Buktinya Tuhan selalu membukakan hati saya untuk mendapatkan solusi terhadap rintangan-rintangan yang sengaja ia buat sebagai penghancur usaha saya.
Bukan hanya itu yang pernah ia lakukan pada saya. Bahkan dia dengan tega dan tanpa rasa segan sedikitpun memajang merek dagangnya tepat di depan merek dagang saya, yang tentu akan membuat merk saya menjadi susah dilihat orang. Dia memang licik dan seribu akal, tapi sangat pendengki. Sifat seperti ini seharusnya jangan kita tiru. Marilah berniaga secara sehat, marilah bersaing secara manusiawi. Jika lawan tanding kita akan hancur dan akan bangkrut, apalah gunanya sama kita. Dunia ini tempat persaingan. Selesai dengan saingan yang pertama, Tuhan pasti akan mengirim saingan yang baru lagi. Begitulah di dunia ini. Jadi dengan berbuat tidak sehat, hanya akan membuat kita menyesal di belakang hari. Padahal kita tahu bahwa penyesalan itu adalah penyakit hati yang tak ada obatnya.
Terkadang saya berpikir akan menghasut anak-anak saya dan karyawan saya semua untuk jangan pernah belanja ke tokonya walau sedikitpun. Tapi saya sering tersadar bahwa saya seorang pemimpin dalam rumah tangga maupun usaha saya. Saya tidak ingin mengajari orang-orang yang di bawah naungan saya menjadi manusia yang mau membeci orang lain. Saya tidak ingin menabur benih kebencian di hati mereka, sebab saya tahu bahwa mereka telah menganggap saya lebih dari seorang guru. Lalu saya mengajarinya dengan cara bersaing yang sehat. Kita bisa buat ini, kita buat itu, dengan maksud agar jualan kita lebih laris. Kita menambah stock barang, kita memperbagus layanan, kita menigkatkan keramahan pada pelanggan. Saya rasa itu akan sangat membantu. Memang kejelekan hati pengusaha di sebelah, sengaja saya paparkan, tapi hanya dengan maksud agar semuanya mengerti. Semuanya akan mampu nanti untuk mengatasinya bila suatu saat nanti mereka berhadapan dengan usahawan yang berhati seperi ini. Kuajari semuanya agar jangan sempat berbuat salah dalam mengatasi ini, dan jangan pula menjadi hancur lebur karena tak mampu mengatasi masahnya. Demikian saya maksudkan agar semua menjadi damai serta mendapat kemenangan yang pasti akan disenangi oleh yang maha kuasa.
Bila saja dugaan saya terhadapnya benar-benar salah, memang sangat tidak pernalah tetangga saya ini memikirkan orang lain. Dia tahu bahwa kalau saya membut layar memanjang si samping toko saya, jelas akan meutup usahanya, tapi dia tak tahu kalau dia membuat penghalang besar di samping tokonya juga akan membuat penghalang buat tetangganya. Sebaiknya ini jangan kita contoh. Marilah berbuat yang terbaik dalam hidup ini. Marilah membuat sesuatu yang tidak akan membuat kita menyesal di kemudian hari, agar hidup kita selalu akan damai sejahtera.

Ingin baca motivasi lainnya, klik disini

5 comments:

ekasoraya said...

Salam. Terimakasih pak. Semangattt.. ~

Unknown said...

sabarrr..

Unknown said...

sabarrr..

kamisiapmembantu said...

Saya setuju dengan teman cina anda,
Yang salah adalah anda yang berjualan sama dengan barang jualan tetangga anda.
Saran saya, ganti bisnis anda.

kamisiapmembantu said...

Saya pernah mengajari tetangga tentang suatu bisnis, tanpa etika dia buka bisnis yang serupa dengan jarak yang sangat dekat (kalau jauh ya silahkan saja).

Rasanya kayak ditusuk dari depan.
Dia pun melakukan obral harga.
Benar-benar kacang lupa kulitnya.